Porosnusantaranews,BALIKPAPAN – Berbagai tantangan dan risiko di tingkat global, nasional, maupun regional diprediksi akan memengaruhi harga dan inflasi daerah pada awal 2026. Ketidakpastian ekonomi global, kondisi geopolitik, serta pemotongan dana transfer daerah membuat anggaran pemerintah daerah terbatas. Sementara operasional SPPG-MBG terus bertambah, sehingga ketersediaan pasokan bahan pangan yang memadai menjadi prioritas, terutama di tengah risiko cuaca ekstrem.
Menindaklanjuti kondisi tersebut, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Balikpapan, Penajam Paser Utara, dan Paser menggelar High Level Meeting (HLM) gabungan, pada Rabu (18/2/2026), di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan. Mengusung tema “Sinergi dan Kolaborasi Menjamin Kesinambungan Pasokan dan Pengendalian Harga”, pertemuan ini menekankan pentingnya koordinasi lintas daerah dan optimalisasi bahan pangan lokal.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi, menegaskan, meningkatnya operasional SPPG-MBG harus dimitigasi untuk meminimalkan risiko gejolak harga. Upaya dilakukan melalui kerjasama pasokan dengan produsen dan distributor pangan serta pemanfaatan bahan pangan lokal untuk program MBG.
Wali Kota Balikpapan selaku Ketua TPID menekankan pentingnya memastikan ketersediaan pangan sesuai kebutuhan kota, serta menyusun neraca pangan lengkap. Kerja sama antar daerah (KAD) dengan Penajam Paser Utara dan Paser juga harus dioptimalkan, termasuk melibatkan Perumda sebagai BUMD pangan. Pemanfaatan produk lokal dalam MBG diharapkan dapat memberi dampak ekonomi lebih besar bagi daerah.
Bupati Penajam Paser Utara menambahkan, menjelang Ramadhan dan Idul Fitri, TPID harus menyiapkan strategi pengendalian inflasi komprehensif. Fokusnya pada stabilitas harga pangan strategis dan koordinasi antar lembaga berbasis 4K: Keterjangkauan harga, Ketersediaan pasokan, Kelancaran distribusi, dan Komunikasi efektif. TPID PPU telah melaksanakan berbagai program, antara lain monitoring pasar tradisional dan modern (9 & 12 Februari), Operasi Pasar Murah di Kecamatan Sepaku (27 Januari), serta Gerakan Pangan Murah di Desa Karang Jinawi dan Desa Bukit Subur.
Wakil Bupati Paser memaparkan upaya peningkatan produksi dan pasokan melalui program Paser BERAKSI (BeteRnak Ayam atasi gejolaK InflaSI). Program ini berhasil meningkatkan produksi telur ayam ras dan menjadikan Paser sebagai daerah percontohan hilirisasi unggas nasional. Penandatanganan kerja sama produsen/distributor pangan dengan mitra SPPG-MBG dalam HLM juga menjadi langkah mitigasi risiko harga sekaligus mendukung program nasional.
Selain itu, HLM TPID menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) antara mitra SPPG-MBG dan produsen/distributor pangan terpilih. Di Balikpapan, 5 mitra SPPG-MBG bekerja sama dengan 6 produsen/distributor pangan. Di Penajam Paser Utara, 4 mitra bekerja sama dengan 1 produsen tahu.
Hasil HLM menetapkan program prioritas pengendalian inflasi 2026 fokus pada penguatan 4K. Tiga langkah lanjutan disepakati: peningkatan ketersediaan pasokan menjelang HBKN, Ramadhan, dan Idul Fitri; penguatan KAD serta optimalisasi peran Perumda; dan fasilitasi kerjasama pasokan antara produsen/distributor dengan mitra SPPG-MBG secara berkesinambungan. (*/mto)
Tulis Komentar