Iklan Dua

Puskesmas di Kukar Dioptimalkan untuk Edukasi Ibu Hamil dan Calon Ibu

$rows[judul]

Porosnusantaranews.com, KUTAI KARTANEGARA – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) memperluas sasaran edukasi pencegahan stunting dengan menyasar perempuan sejak sebelum memiliki anak. Seluruh puskesmas didorong berperan memberikan pembekalan mengenai kesehatan ibu, pola pengasuhan, dan pemenuhan kebutuhan gizi anak.

Kepala Dinkes Kukar, Ismi Mufiddah, mengatakan pencegahan stunting perlu dimulai sebelum anak mengalami gangguan pertumbuhan. Karena itu, edukasi tidak hanya diberikan kepada keluarga yang telah memiliki balita, tetapi juga perempuan yang sedang mempersiapkan kehamilan maupun ibu hamil.

“Pendampingan tidak hanya dilakukan kepada keluarga yang anaknya sudah mengalami stunting. Ibu hamil dan calon ibu juga perlu mendapatkan pembekalan, supaya sejak awal mereka sudah memahami bagaimana menjaga kesehatan dan memenuhi kebutuhan gizi anak,” ujarnya, Kamis (5/11/2026).

Menurut Ismi, pengetahuan mengenai pengasuhan dan kebutuhan nutrisi perlu dibangun sejak dini. Orang tua harus memahami bahwa kebutuhan makanan anak berubah mengikuti tahapan pertumbuhannya, termasuk ketika mulai memasuki masa pemberian makanan pendamping ASI.

Pemahaman tersebut mencakup pemilihan jenis makanan, tekstur, serta cara pemberian yang sesuai dengan kemampuan anak. Ketidaktepatan dalam memberikan makanan berpotensi membuat kebutuhan nutrisi tidak terpenuhi secara maksimal.

“Orang tua harus mengetahui kapan anak mulai mendapatkan makanan pendamping dan seperti apa tekstur yang tepat. Jangan sampai makanan yang diberikan belum sesuai dengan kemampuan anak untuk mengonsumsinya, sehingga kebutuhan nutrisinya justru tidak terpenuhi,” jelasnya.

Untuk mendukung upaya tersebut, Dinkes Kukar mengoptimalkan pelayanan penyuluhan kesehatan di seluruh puskesmas. Petugas kesehatan tidak hanya memberikan informasi, tetapi juga melakukan pendampingan dan konseling kepada keluarga yang membutuhkan.

Keluarga dengan anak yang mengalami stunting menjadi salah satu sasaran pendampingan. Melalui konseling, petugas membantu orang tua memahami pola pengasuhan dan pemenuhan gizi yang perlu diperhatikan sesuai kondisi anak.

Ismi menilai, perluasan sasaran edukasi penting karena persoalan gizi tidak selalu disebabkan keterbatasan ekonomi. Keluarga yang memiliki kemampuan finansial cukup sekalipun masih dapat menghadapi persoalan pemenuhan nutrisi apabila belum memahami pola pemberian makanan yang tepat.

“Tidak semua persoalan gizi anak berawal dari keterbatasan ekonomi. Ada keluarga yang sebenarnya mampu memenuhi kebutuhan anak, tetapi belum memahami cara pengasuhan dan pemberian makanan yang sesuai,” ungkapnya.

Ia menambahkan, edukasi harus dilakukan secara berkelanjutan karena pengetahuan yang diterima masyarakat belum tentu langsung mengubah kebiasaan sehari-hari.

“Memiliki pengetahuan belum tentu membuat seseorang langsung mengubah kebiasaannya. Karena itu, kami tidak boleh berhenti memberikan edukasi. Petugas kesehatan akan terus mengingatkan dan mendampingi masyarakat agar pemahaman tersebut benar-benar diterapkan,” tegasnya.

Melalui penguatan peran puskesmas, Dinkes Kukar berharap semakin banyak keluarga memiliki kesiapan dalam mengasuh anak dan memenuhi kebutuhan gizinya. Upaya tersebut diharapkan memperkuat pencegahan stunting sejak tahap awal kehidupan. (Adv)

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)