Porosnusantaranews, BALIKPAPAN - Lonjakan pesanan nastar menjelang Idulfitri membawa berkah bagi pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Balikpapan. Namun di balik tingginya permintaan tersebut, pelaku usaha justru menghadapi tantangan dalam mencari sumber daya manusia (SDM) untuk membantu proses produksi.
Pemilik UD Anlova, Ariatni Navtati Lova, mengaku pesanan nastar meningkat tajam pada Ramadan tahun ini. Bahkan salah satu pesanan terbesar yang diterima mencapai sekitar 4.000 toples nastar kemasan 250 gram.
Untuk memenuhi pesanan tersebut, dapur produksinya harus bekerja hampir tanpa henti setiap hari. Usaha rumahan ini menghabiskan sekitar 25 sak tepung.
“Tepung keseluruhan mungkin habis sekitar 25 sak. Kalau bahan lain seperti telur itu sehari bisa sampai empat ikat,” ujar Lova.
Lonjakan pesanan tersebut membuat usaha rumahan ini harus merekrut tenaga tambahan untuk mengejar target produksi sebelum Lebaran.
“Selama Ramadan ini total ada sekitar 15 orang yang membantu produksi. Mereka datang dari berbagai kalangan, ada pelajar, mahasiswa, sampai ibu-ibu yang ingin cari tambahan penghasilan,” katanya.
Meski membuka peluang kerja musiman, Lova mengaku tantangan terbesar justru pada pencarian tenaga kerja yang mampu bertahan dengan ritme produksi yang cukup padat.
“Pesanan kan banyak sekali, tapi yang jadi tantangan itu SDM. Tidak semua kuat kerja dengan tempo produksi seperti ini. Kadang sudah datang kerja, tapi hanya bertahan satu dua hari karena capek atau tidak terbiasa dengan kerja dapur yang cukup berat,” ungkapnya.
Ia menyebut sebagian pekerja yang direkrut berasal dari kalangan Generasi Z. Namun tidak semuanya mampu bertahan lama karena proses produksi nastar menjelang Lebaran sering berlangsung hingga larut malam.
Para pekerja yang membantu produksi umumnya dibayar sekitar Rp100 ribu per hari untuk delapan jam kerja, dan bisa mencapai Rp150 ribu jika bekerja lebih lama.
Lova mengatakan selama masa produksi, pergantian pekerja cukup sering terjadi. Dalam satu hingga dua hari, ia bisa saja mengganti tenaga kerja karena membutuhkan orang yang benar-benar serius membantu produksi.
“Memang banyak yang datang, tapi tidak semua bertahan lama. Anak-anak Gen Z ada juga yang kerja, tapi yang benar-benar tahan sampai selesai tidak banyak,” ujarnya.
Meski menghadapi tantangan tersebut, produksi nastar akhirnya tetap dapat diselesaikan tepat waktu.
“Alhamdulillah pesanan sekitar 4.000 toples itu akhirnya bisa kami kejar dan selesai sebelum Lebaran,” tuturnya.
Dari sisi penjualan, Lova menyebut lonjakan pesanan tahun ini turut mendorong peningkatan omzet usaha. Jika pada tahun lalu penjualan nastar sekitar 1.000 toples dengan omzet berkisar Rp40–50 juta, maka pada Ramadan tahun ini omzet diperkirakan menembus lebih dari Rp200 juta.
Di luar momen Lebaran, UD Anlova biasanya memproduksi berbagai jajanan seperti kue sus, pastry, dan snack box yang dijual berdasarkan pesanan. (*/mto)
Tulis Komentar