Porosnusantaranews,BALIKPAPAN – Upaya meningkatkan literasi keuangan dan kesadaran investasi sejak dini terus digalakkan. Divisi Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Sumber Daya Manusia (SDM) Ikatan Alumni (IKAM) SMP Negeri 2 Balikpapan menggelar kegiatan Cerdas Finansial Bersama Pasar Modal Indonesia.
Kegiatan tersebut berlangsung pada Sabtu (7/2/2026) di Gedung Sekolah Pascasarjana Magister Ilmu Hukum Lantai 2 Universitas Balikpapan. Pesertanya tidak hanya berasal dari kalangan alumni IKAM SMPN 2 Balikpapan, tetapi juga masyarakat umum yang tertarik pada pengelolaan keuangan dan investasi pasar modal.
Ketua IKAM SMP Negeri 2 Balikpapan, Sigit Wibowo, mengatakan kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen organisasi alumni dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Menurutnya, literasi keuangan menjadi salah satu bekal penting di tengah tantangan ekonomi saat ini.
“Melalui kegiatan cerdas finansial ini, kami berharap alumni dan masyarakat semakin memahami pentingnya pengelolaan keuangan yang sehat serta investasi yang benar. Kami juga mendorong bidang-bidang lain di IKAM untuk menyelenggarakan program serupa agar keberadaan IKAM semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” ujarnya.
Diskusi dipandu Ketua Program Studi Magister Manajemen Universitas Balikpapan, Dr. Nurlia, S.E., M.M. Suasana diskusi berlangsung interaktif dengan menghadirkan praktisi pasar modal sebagai narasumber.
Deputi Wilayah Bursa Efek Indonesia (BEI) Kaltimtara, Aldila Bandaro, menjadi narasumber utama. Dalam pemaparannya, Aldila menekankan pentingnya perencanaan keuangan sejak dini sebagai fondasi kesejahteraan finansial di masa depan.
Ia memaparkan konsep pengelolaan keuangan ideal dengan pembagian 50 persen untuk kebutuhan, 20 persen untuk tabungan dan investasi, 20 persen untuk keinginan, serta 10 persen untuk sosial.
“Kebutuhan 50 persen meliputi cicilan bulanan, konsumsi, transportasi, kebutuhan rumah tangga, biaya pendidikan, serta pembayaran listrik dan air. Sedangkan 20 persen tabungan dan investasi dialokasikan untuk dana darurat, tabungan, asuransi, dan investasi,” jelasnya.
Sementara itu, porsi 20 persen untuk keinginan dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan gaya hidup, seperti berbelanja, menonton konser, nongkrong, atau wisata kuliner. Adapun 10 persen sosial dialokasikan untuk zakat, persepuluhan, bantuan pendidikan, dan kegiatan sosial lainnya.
Aldila juga mengingatkan pentingnya memahami alasan berinvestasi, salah satunya konsep nilai waktu uang (time value of money), di mana nilai uang saat ini berbeda dengan nilai uang di masa mendatang.
Tak kalah penting, peserta diimbau untuk waspada terhadap investasi bodong. Beberapa cirinya antara lain janji keuntungan tidak wajar, skema penipuan, pemasaran menyesatkan, serta penawaran investasi tanpa izin resmi.
Pada sesi berikutnya, Aldila menjelaskan pasar modal sebagai sarana yang mempertemukan pihak yang membutuhkan dana jangka panjang dengan pihak yang memiliki kelebihan dana. Instrumen yang tersedia antara lain saham, obligasi, dan reksa dana.
“Di pasar modal ada dua strategi utama, yaitu trading dan investing. Trading cenderung jangka pendek dengan risiko lebih tinggi, sedangkan investing berorientasi jangka panjang,” terangnya.
Ia menegaskan bahwa investasi bukan jalan instan, melainkan membutuhkan komitmen, kedisiplinan, serta dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan.
“Berinvestasi saham berarti ikut bertumbuh bersama perusahaan dan dunia usaha. Investasi adalah proses jangka panjang yang memerlukan konsistensi,” pungkasnya. (*/humas/mto)
Tulis Komentar